Bumi Cuma Satu, Kalau Rusak Mau Kemana?

Hari bumi (Earth Day) merupakan sebuah peringatan yang bertujuan untuk mengingatkan umat manusia dalam penjagaan dan pelestarian lingkungan hidup (bumi). Peringatan ini diadakan setiap tanggal 22 April. Hari bumi diprakarsai oleh seorang senator Amerika bernama Gaylord Nelson yang dilatarbelakangi pencemaran minyak di tahun 1969. Pencemaran skala besar tersebut terjadi di Santa Barbara California akibat tumpahan minyak. Peringatan ini pertama kali diadakan pada tahun 1970 di Wisconsin Amerika. Saat itu jutaan orang turun ke jalan untuk menyuarakan keprihatinan terhadap nasib bumi yang semakin marak tereksploitasi secara berlebihan oleh pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan materiil. Keprihatinan ini dialami oleh segenap pegiat lingkungan hidup maupun masyarakat di seluruh dunia. Bumi tempat manusia hidup tidak lagi nyaman. Jutaan hektar hutan ditebang, pembuangan limbah industri ke sungai/laut tanpa adanya proses filterisasi, produksi polusi hasil pembakaran bahan bakar fosil, dan berbagai perilaku manusia yang telah menggerogoti kesehatan alami bumi secara perlahan namun pasti. Jika hal ini dibiarkan berlangsung terus menerus maka bukan hal yang mustahil jika nantinya bumi akan memberikan respon serupa kepada umat manusia.

Peringatan hari bumi bertepatan dengan musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) dan musim gugur di Southern Hemisphere (belahan bumi selatan). Hari bumi berkaitan erat dengan isu perubahan iklim yang mengancam kelangsungan ekosistem di seluruh belahan bumi. Perubahan iklim ditandai dengan adanya pemanasan global yang mencairkan massa es di kutub dan berakibat pada naiknya permukaan air laut. Hal tersebut menyebabkan tenggelamnya pulau-pulau kecil yang ada di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang notabene adalah Negara kepulauan. Banjir besar dan peningkatan tinggi gelombang air laut akan terjadi di sepanjang semenanjung pantai dan berdampak buruk pada daerah yang memiliki ketinggian di bawah permukaan air laut. Selain itu, perubahan iklim juga menyebabkan tidak menentunya pergantian musim khususnya di wilayah khatulistiwa. Musim kemarau yang panjang dan mencekik bergantian dengan musim penghujan yang membawa hujan badai. Sungguh sebuah ironi di tengah perkembangan teknologi yang katanya semakin ‘maju’.

Lain di darat lain pula di laut. Selain mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut, pemanasan global juga berimbas pada pemutihan karang yang secara bertahap akan mengancam kelangsungan ekosistem laut dan matinya ikan-ikan. Pencairan es kutub juga berakibat pada menurunnya kadar garam air laut yang memicu ketidakseimbangan arus laut dan berujung pada meningkatnya kuantitas badai di laut lepas.

Sungguh mengerikan segala ancaman yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ‘tercerdas’ di muka bumi yang telah diciptakan Tuhan untuk menjaga dan mengambil manfaat dari tanah dan air bumi seharusnya memiliki kepedulian yang lebih terhadap sakit yang diderita planet tempat manusia menumpang hidup atas izin-Nya. Perhatian pemerintah selaku pemegang kekuasaan dalam pembuatan kebijakan pro lingkungan hidup sangat diperlukan untuk mensukseskan langkah penyelamatan bumi. Selain itu, peran serta masyarakat menjadi kunci yang akan membuka kesadaran generasi tua maupun muda untuk saling mengingatkan akan arti pentingnya pelestarian lingkungan hidup.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu meringankan beban bumi. Dari langkah terkecil hingga skala global dapat ditembuh secara bersama-sama oleh penduduk bumi. Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:

1. Bijak dalam Pemakaian Listrik dan Penggunaan Teknologi Hemat Listrik

Tahukah kalian bahwa pembangkit listrik khususnya di Indonesia sebagian besar digerakkan oleh energi fosil yang tidak ramah lingkungan dan jumlahnya pun terbatas. Oleh karena itu langkah kecil seperti mematikan peralatan listrik dan elektronik ketika tidak digunakan, menggunakan desain rumah ramah lingkungan dan hemat energi, mengurangi penggunaan peralatan pada waktu beban puncak ( 19.00-22.00 ), mencabut peralatan charging setelah selesai mengisi baterai handphone/laptop, dan berbagai contoh sederhana lainnya. Selain itu, pemilihan peralatan listrik dan elektronik dengan teknologi yang lebih hemat listrik dan ramah lingkungan menjadi trend yang seharusnya berkembang di era mendatang.

2. Hemat dalam Penggunaan Air

Air merupakan sumber kehidupan. Tanpa air tidak akan ada kehidupan. Oleh karena itu sangat penting bagi manusia untuk menjaga ketersediaan air bersih untuk kelangsungan hidup manusia maupun makhluk hidup lain di bumi. Berhemat dalam penggunaan air adalah contoh paling sederhananya. Selain itu, menjaga kelestarian sumber mata air dengan memeliharanya dari pencemaran menjadi semakin krusial di tengah pencemaran air yang marak terjadi khususnya di daerah industri dan perkotaan.

3. Pengurangan Konsumsi Bahan Bakar Fosil dan Proyek Konversi Energi

Seperti kita ketahui bahwa bahan bakar fosil berupa minyak bumi dan gas masih banyak digunakan manusia dalam menjalankan roda kehidupan. Sudah saatnya manusia untuk mengembangkan sumber energi alternatif dan beralih dari energi fosil ke energi terbarukan yang ramah lingkungan seperti angin, gelombang laut, surya, dan panas bumi. Pengembangan teknologi dan sumber daya manusia diperlukan untuk menunjang keberhasilan proyek konversi energi. Sebelum ke arah sana, budaya penghematan energi juga harus dimulai saat ini juga dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, mebiasakan diri berjalan kaki dan bersepeda, serta mendukung pembangunan sistem angkutan massal. Bagaimanapun, konversi energi tetap memerlukan energi untuk pembangunannya. Apa jadinya jika sumber energi tersebut secara semena-mena telah kita habiskan saat ini?

4. Reuse, Reduce, dan Recycle

Membiasakan penggunaan kembali barang-barang yang masih dapat digunakan (Reuse), pengurangan pemakaian barang-barang nonorganik (Reduce), serta pengolahan kembali barang-barang tak terpakai dalam bentuk yang lain sebagai upaya mengurangi kuantitas sampah.

5. Pengolahan Limbah secara Terintegrasi

Permasalahan terbesar manusia dalam hal konsumsi adalah limbah (sampah). Kebiasaan buruk masyarakat, khususnya di Indonesia yang malas untuk memisahkan sampahnya dan mengelolanya secara terpisah mengakibatkan problematika berkepanjangan. Di beberapa negara maju, pengolahan limbah menjadi masalah penting yang ditangani secara serius. Membangun budaya dan watak masyarakat dalam mengolah sampah serta pembangunan pusat pengolahan sampah terpadu menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah sampah yang semakin menumpuk. Pendidikan sedari dini kepada anak untuk membuang sampah pada tempat sampah, membiasakan diri untuk memisahkan berbagai jenis sampah, pembangunan fasilitas pengolahan sampah organik, non organik, dan limbah B3, serta peran pemerintah dalam pembuatan kebijakan skala nasional harus dilakukan secara terintegrasi untuk mewujudkan lingkungan yang terbebas dari limbah dalam skala waktu yang pendek.

6. Penanaman Pohon dan Pengembalian Fungsi Hutan

Penebangan liar, alih fungsi lahan untuk perkebunan dan persawahan menjadi penyebab hilangnya jutaan hektar hutan di Indonesia setiap tahunnya. Oleh karena itu dalam hal ini pemerintah memiliki peran besar untuk bersikap tegas terhadap para mafia hutan yang telah menggerogoti aset hayati bangsa Indonesia. Selain itu masyarakat juga dihimbau untuk turut peduli dengan menggalakkan penanaman pohon dan penghijauan lingkungan dimulai dari lingkungan rumah.

Intinya, banyak hal yang dapat dilakukan. Tak perlu bertanya pada seorang Profesor untuk melakukan langkah-langkah sederhana semacam itu.

Wahai generasi pemuda, tidakkah engkau malu dengan kemalasanmu itu?

Wahai generasi penerus bangsa, sudikah engkau dikatakan sebagai kaum yang manja?

Bangunlah, berdirilah, berdiri di atas kakimu sendiri,

Jangan menjadi pemuda yang cengeng, hapus air matamu dan langkahkan kaki lebih jauh ke arah matahari bersinar.

 

Salam Jawara, Salam Cinta dari Kampus Jingga!

 

Departemen Kajian, Riset, dan Politik BEM FT UNY 2015

 

Referensi:

http://www.merdeka.com/teknologi/kenali-sebelum-peringati-ini-4-fakta-tersembunyi-dari-hari-bumi.html

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/mari-rayakan-hari-bumi-selamatkan-arktik/blog/44851/

 

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan pesan ya ...