KPK-Polri Bersiteru, Aset Bangsa Tak Menentu

Yogyakarta (20/02/2015) – BEM FT UNY bersama BEM REMA UNY dan BEM Seluruh Indonesia wilayah Yogyakarta melakukan aksi damai sebagai bentuk keprihatinan sekaligus kepedulian mahasiswa atas polemik KPK-Polri. #JumatKeramat menjadi tema aksi dimana idiom tersebut tersematkan pada KPK dikarenakan kerap menetapkan pelaku tindak pidana korupsi pada hari Jumat. Aksi damai berupa longmarch dari gedung DPRD DIY dimulai sekitar pukul 16.00 dan melibatkan masa lebih dari 150 mahasiswa. Masa aksi berasal dari UNY, UGM, UMY, dan STMIK Amikom. Roundtext bertuliskan tuntutan terhadap pemerintah seperti “Netralisasi Indonesia”, “Akhiri Drama Politik Indonesia”, “KPK-Polri perang, Freeport Melayang”, hingga “Save Indonesia” mewarnai longmarch yang juga disemarakkan yel-yel menyindir pemerintah. Aksi ditutup dengan orasi presiden mahasiswa dari masing-masing kampus.Sehari sebelumnya, Kamis (19/02/2015), Departemen Sosial Politik Fakultas se-UNY bersama Kementerian Kajian Riset dan Politik BEM REMA UNY telah mengadakan forkom terkait penyikapan kisruh KPK-Polri. Bertempat di sekretariat BEM FT UNY, forkom tersebut dihadiri Menteri Karispol BEM REMA UNY, Menteri Luar Negeri BEM REMA UNY, Kadept Karispol BEM FT UNY, Kadept Sospol BEM FIS UNY, Ketua HIMA Ilmu Sejarah, dan anggota dari masing-masing organisasi. Forkom membahas Sikap BEM se-UNY terhadap kisruh KPK-Polri serta tuntutan yang akan diajukan kepada pemerintah. Forum menyepakati tuntutan yang diajukan oleh BEM REMA UNY dan memutuskan bersikap “netral” di antara kedua lembaga (KPK dan Polri) serta menekan pemerintah untuk bertidak tegas dalam memberantas mafia hukum di Indonesia. Adapun isi dari tuntutan tersebut adalah sebagai berikut (diambil dari press release BEM REMA UNY):
  1. Menuntut Presiden Joko Widodo untuk tegas dalam menegakkan hokum dalam perselisihan antara KPK dan Polri.
  2. Menuntut Presiden Joko Widodo untuk melibatkan KPK dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam proses pemilihan calon Kapolri.
  3. Mendukung Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial untuk menelisik ulang hasil putusan praperadilan BG.
  4. Menuntut Presiden Joko Widodo untuk membersihkan mafia yang ada di Indonesia.

Pemerintah diminta segera menyelesaikan permasalahan yang menyeret dua lembaga penegak hukum di Indonesia. Jangan biarkan hal tersebut mengganggu kinerja dari kedua lembaga dan membiarkan para mafia hukum mengambil keuntungan dari kekisruhan yang terjadi. Sikap netral yang disuarakan bukanlah sebagai bentuk main aman, namun menjadi tuntutan kepada pemerintah untuk memberantas akar dari permasalahan yang terjadi dan tidak ikut terombang-ambing dalam drama di antara keduanya.

Selain keempat tuntutan tersebut, ada satu hal lain yang menjadi perhatian dalam kajian kisruh KPK-Polri. Pertama terkait kecurigaan pengalihan issu yang dilakukan untuk meredam issu lain seperti kontrak Freeport, Blok Mahakam, Blok Cepu, hingga suntikan Penambahan Modal Negara (PMN) kepada BUMN sebesar Rp. 64,8 triliun. Isu terkait penjualan asset Negara serta pengelolaan sumber daya alam Indonesia oleh asing menjadi riskan jika muncul ke permukaan. Seperti kita ketahui bahwa sebagian besar sumber daya alam Indonesia di sektor tambang seperti batubara, minyak bumi, dan logam mulia masih dikelola oleh perusahaan asing. Selain memikirkan keuntungan secara finansial dari pajak pendapatan perusahaan asing, pemerintah juga harus mengawasi dampak panjang berupa kerusakan alam yang terjadi, kesejahteraan wilayah dan pembangunan infrastruktur dari asset dan sumber daya alam yang dikelola oleh asing. Selain itu pemerintah juga memiliki pekerjaan rumah besar untuk mengambil alih pengelolaan SDA Indonesia dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, BEM FT UNY bersama-sama dengan BEM se-UNY akan terus memantau perkembangan kisruh KPK-Polri dan menghimbau mahasiswa untuk tidak terbawa oleh arus informasi media serta tetap bersikap jeli dengan situasi sosial dan politik yang terjadi di Indonesia. Jika ada yang bertanya apa yang mampu mahasiswa lakukan di luar bangku kuliahnya, maka katakana “Kami mampu melihat, kami mampu berpikir, dan kami mampu bersuara selama idealism masih kami simpan di dada kami!”
Salam cinta wahai pemuda bangsa, salam pergerakan dari kampus jawara!

Kajian Riset dan Politik BEM FT UNY 2015

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan pesan ya ...